Architecture 101

lutfiprayogi.wordpress.com

120518_WRW_CF

Somehow, my undergraduate study (majoring architecture) memory was a negative memory; full of suffering, etc. This movie helps changing it into a sweet one. 🙂

 

P.s: Someday maybe, really maybe, I will discuss the movie cognitively, but in the meantime I will just enjoy it psychologically. 🙂

Advertisements

Perkembangan Perumahan Kecil di Parung, Depok

http://www.lutfiprayogi.co.cc

This is my final assignment on the (Introduction of) Urban and Regional Planning course. Enjoy!

Say no to plagiarism, please pay attention to good academic ethics (citation, reference footnote & endnote, etc) if you’d like to use this essay as a reference. 🙂

Perkembangan Perumahan Kecil di Parung, Depok

 

Beberapa tahun terakhir ini banyak berkembang perumahan kecil di Parung, Depok, beberapa yang cukup terkenal adalah Greenland Residence dari Relife Realty dan Tamansari Puri Bali dari Wika Realty. Perumahan-perumahan tersebut rata-rata memiliki areal kurang dari 5.000 m2. Unit-unit yang ditawarkan berukuran antara 36-72 m2 dengan luas tanah dibawah 100 m2.[i] Di esai ini akan dibahas beberapa faktor yang mendukung berkembangnya perumahan-perumahan tersebut dan secara khusus di akhir akan dibahas beberapa faktor yang mendukung berkembangnya perumahan dalam ukuran kecil. Faktor-faktor tersebut adalah: (1) tersedianya infrastruktur transportasi serta fasilitas sosial dan umum, (2) adanya target pasar yang relatif luas, dan (3) mudahnya pengembang mengembangkan perumahan kecil.

Read the rest of this entry »

Jakarta Kaiseki

http://www.lutfiprayogi.co.cc

This is my project on Architecture Design Studio V course. Your comment will be an honour to me. 🙂

 

 

Jalan Margonda Raya sebagai Cermin Semangat Kebebasan dan Kesetaraan Masyarakat Kota Depok

http://www.lutfiprayogi.co.cc

This is my final assignment on the Architecture, City, & Power course. Feel free to read, feel free to use it as a reference with good academic ethics (deep attention in citation, reference footnote & endnote, etc). And say no to plagiarism! 🙂

 

JALAN MARGONDA RAYA SEBAGAI CERMIN SEMANGAT KEBEBASAN DAN KESETARAAN MASYARAKAT KOTA DEPOK


BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Jalan raya selalu menjadi cermin dari kehidupan penggunanya, baik bagi mereka yang menggunakannya sebagai jalur transportasi maupun yang menggunakannya sebagai pemicu aktivitas di sekitarnya. Jalan raya menggambarkan berbagai aspek kehidupan masyarakat: keamanan, ekonomi, politik, sosial budaya, agama/kepercayaan, dsb. Jalan raya bahkan dapat menggambarkan sisi terdalam dari suatu masyarakat: ideologi, filosofi, dsb.

Dalam sejarahnya berbagai proyek perancangan kota selalu menyertakan jalan raya sebagai elemen perancangannya: Avenue Champ-Elysees pada proyek Haussman di Paris, poros Sudirman-Thamrin pada proyek Soekarno di Jakarta, Interstate-10 pada proyek Robert Moses di New York, dsb. Terlepas dari fungsi dari sebuah jalan raya, selalu ada yang ingin disampaikan oleh perancang dan tersampaikan oleh pihak selaln perancang melalui jalan raya.

Pasca Orde Baru keadaan sosial warga kota di Indonesia diidentifikasi dengan adanya “kelonggaran di Pusat”[i], ditandai dengan berubahnya relasi antara warga dengan pemerintah (pusat). Relasi yang sebelumnya bersifat kepatuhan dan menjurus pada ketakutan berubah menjadi lebih cair. Semangat kebebasan dan kesetaraan antar warga negara menjadi semangat yang berkembang pada masa tersebut (masa ini).

Read the rest of this entry »

Industrialisasi Ruang dan Kehidupan Perkotaan

http://www.lutfiprayogi.co.cc

Industrialisasi Ruang dan Kehidupan Perkotaan

Tanggapan pertemuan kelas Arsitektur, Kota, dan Kuasa ke-10

Lutfi Prayogi 0706269230

Film “Manufactured Landscape” sebagian besar menggambarkan proses yang saya beri judul Revolusi Industri Tahap 2 di Republik Rakyat China. Disebut ‘revolusi’ karena ia terjadi secara cepat setelah Reformasi Ekonomi di RRC pada dekade 80-an oleh Deng Xiaoping. Proses revolusi tersebut memberi gambaran jelas mengenai proses industrialisasi ruang dan kehidupan perkotaan di negara tersebut, yang sebetulnya hanya merupakan contoh dari proses-proses serupa di seluruh dunia. Industrialiasi ruang dan kehidupan perkotaan tersebut berakibat pada kecenderungan pengkutuban (polarisasi) ruang perkotaan menjadi daerah yang dilayani (serviced) dan daerah yang melayani (service). Pengkutuban ruang perkotaan tersebut pun membawa dampak-dampak lainnya.

Read the rest of this entry »

Politik Informalitas-Perkotaan: Kasus Palestina

http://www.lutfiprayogi.co.cc

Politik Informalitas-Perkotaan: Kasus Palestina

Tanggapan pertemuan kelas Arsitektur, Kota, dan Kuasa ke-6

Lutfi Prayogi 0706269230

Kehidupan perkotaan, baik formal maupun informal, tidak pernah lepas dari permainan kepentingan politik penguasa. Pada kasus Palestina yang diceritakan di film Journey to the Occupied Land digambarkan bagaimana dua bentuk informalitas-perkotaan yang berbeda diberi perlakuan yang berbeda, dengan berlandaskan isu suku, ras, dan agama, untuk memenuhi tujuan politik penguasa. Dalam hal ini penguasa adalah negara Israel, dengan salah satu tujuan negara tersebut adalah “menjadi negara Yahudi yang dapat melindungi bangsa Yahudi dari segala penindasan dan penderitaan”[i]

Read the rest of this entry »

Politik Informalitas Perkotaan: Kasus ‘Reclamation’, Teluk Manila, Filipina

http://www.lutfiprayogi.co.cc

Politik Informalitas Perkotaan: Kasus ‘Reclamation’, Teluk Manila, Filipina

Tanggapan pertemuan kelas Arsitektur, Kota, dan Kuasa ke-5

Lutfi Prayogi 0706269230

Selain melihat informalitas perkotaan sebagai sebuah ‘tipe’ yang muncul akibat adanya kesenjangan kualitas kehidupan (ekonomi, pendidikan, kesehatan, dsb) dan diidentifikasi dengan kualitas kehidupan yang rendah yang berlaku secara umum di seluruh penjuru dunia, ia juga dapat dilihat sebagai sebuah hal unik yang muncul akibat pola dan aktivitas politik lokal yang juga unik. Kasus pemukiman informal di daerah Reclamation, Teluk Manila, Filipina, menjadi salah satu contohnya.

Read the rest of this entry »