Bangsa individualis? Bangsa mana?

http://www.lutfiprayogi.co.cc

Malam ini saya terlibat perbincangan menarik dengan Fajrie Nuary dan Nur Hasan mengenai “Bangsa manakah yang individualis?”. Mereka berkata bahwa bangsa barat lah yang individualis, dan bangsa Indonesia tidak lebih individualis dibanding bangsa barat. Sebagian besar dari kita mungkin akan berpendapat demikian juga.

Saya ingin menyampaikan sudut pandang yang berbeda tentang pengertian ‘individualis’. Saya berpendapat sifat individualis bangsa Indonesia dan bangsa barat berbeda. Menurut saya, sifat individualis bangsa Indonesia adalah ‘yang penting urusan saya selesai (tidak peduli urusan orang lain)’, sedangkan sifat indidivudalis bangsa barat adalah ‘setiap orang punya hak dan urusannya masing-masing’.

Dua pengertian tersebut tentunya berbeda. Saya akan memberikan contoh tentang aplikasi dua pengertian tersebut dari satu kegiatan yang sama, yaitu berpergian menggunakan kereta dalam kota.

Di Indonesia (Jabodetabek), calan penumpang membeli tiket (dari petugas) di loket. Di beberapa stasiun seperti Cikini calon penumpang berjejalan di depan loket, menyodorkan uangnya ke petugas dan menyebutkan tiket yang mau dibeli. Calon penumpang lalu berjejalan di depan pintu kereta, seringkali walaupun penumpang yang hendak turun dari kereta belum sepenuhnya turun, calon penumpang sudah berebutan naik. Cukup sering ditemukan penumpang yang duduk di depan pintu kereta (di bagian dalam kereta). Penumpang kemudian (terkadang) akan diperiksa tiketnya oleh petugas di dalam kereta. Di dalam kereta seringkali ada pedagang asongan yang menjajakan dagangannya ke penumpang.

Dalam rangkaian kegiatan di atas kita (penumpang kereta) berinteraksi dengan banyak orang, petugas loket, petugas pemeriksa tiket, pedagang asongan, penumpang lain dengan segala kegiatannya, dll. Dari banyaknya interaksi tersebut kita dapat mengatakan bahwa bangsa Indonesia tidak individualis dan banyak bersosialisasi dalam kehidupan sehari-harinya. Namun dapat kita lihat juga, dalam rangkaian kegiatan tersebut betapa banyak orang-orang yang melakukan ‘yang penting urusan saya selesai (tidak peduli urusan orang lain)’, mulai dari orang-orang yang berjejalan di depan loket, berjejalan menutupi pintu kereta, hingga duduk di depan pintu kereta. Saya rasa sifat tersebut sangat khas Indonesia dan banyak terjadi pada kasus-kasus lainnya.

Di negara barat (Prancis) dan negara yang menurut saya lebih maju dari Indonesia (Malaysia), calon penumpang normal (tidak cacat, dsb) biasa membeli tiket kereta sekali jalan dari mesin (ticket machine). Calon penumpang cacat membeli tiket dari loket, calon penumpang yang ingin mengisi ulang tiket berlangganan juga mengisi dari loket yang sama. Calon penumpang normal masuk dan keluar peron melalui gerbang otomatis (seperti gerbang ‘penelan karcis’ Transjakarta Koridor 1), sedangkan penumpang cacat masuk melalui gerbang khusus. Calon penumpang menunggu di lokasi khusus (ada tanda di lantainya) untuk menunggu di samping-samping pintu kereta (posisi berhenti pintu kereta hampir selalu sama untuk tiap perjalanan), dan baru memasuki kereta pada saat seluruh penumpang yang ingin keluar telah keluar. Di beberapa kereta pintu untuk masuk dan keluar kereta dibedakan, di beberapa jalur kereta bahkan peron untuk masuk dan keluar kereta dibedakan. Selalu ada pemberitahuan nama stasiun setiap kereta memasuki stasiun tertentu.

Dalam rangkaian kegiatan di seorang penumpang hampir tidak berinteraksi dengan orang lain, selain interaksi tidak langsung dengan penumpang lain. Hampir segala urusan penumpang dilayani oleh mesin, mulai dari pembelian tiket, pengecekan tiket, pemberitahuan stasiun, dll. Banyak hal yang membuat penumpang tidak berinteraksi dengan orang lain, mulai dari pembedaan pintu keluar dan masuk hingga larangan membuat keramaian di dalam kereta. Dari sedikitnya interaksi seorang penumpang dengan orang lain tersebut kita dapat mengatakan bahwa bangsa barat dan bangsa maju adalah bangsa yang individualis. Tetapi cobalah liat, bagaimana dalam rangkaian kegiatan tersebut telah berjalan sebuah sistem yang kompleks yang menjamin agar hak dan urusan setiap orang terpenuhi dengan baik dan seseorang tidak mengganggu hak orang lain. Mesin penjual tiket dan gerbang keluar masuk dibuat banyak sehingga tidak terjadi tumpukan manusia, gerbang penumpang normal dan cacat dibedakan, pintu keluar masuk dan keluar dibedakan, larangan membuat keramaian di dalam kereta, dll. Sistem-sistem seperti ini adalah sistem yang jamak ditemuka di negara barat dan negara maju.

Saya berpendapat bahwa sifat individualis tidak sepenuhnya buruk. Saya juga berpendapat bahwa sifat individualis bangsa Indonesia (yang lebih mengarah pada sifat egois) adalah sifat yang harus dikikis dan sifat individualis bangsa barat & maju (yang mengarah pada penghormatan kepentingan orang lain/kepentingan umum) adalah sifat yang perlu dipelajari.

Saya sendiri berpinsip bahwa lebih baik saya (terlihat) tidak bersosialisasi dengan orang lain tapi menghormati kepentingan umum daripada banyak bersosialisasi dengan orang lain tapi tidak menghormati kepentingan umum.πŸ™‚

 

12 Responses to “Bangsa individualis? Bangsa mana?”

  1. Muhamad Fajar Says:

    Klo Ashlih kira-kira masuk yang mana ya?πŸ˜€

  2. ecky agassi Says:

    sebenernya contoh diatas juga adalah contoh kurangnya kesadaran masyarakat Indonesia dalam menjaga ketertiban umum,
    kearifan lokal Indonesia relatif sangat sosial dan tidak individualis, kehidupan kota mungkin telah banyak mengikis itu,

  3. Lutfi Prayogi Says:

    Hm. Iya gw agak setuju juga sih Ky. Kalo gw suka make frase “bangsa yg belum siap untuk hidup beradab sebagai sebuah bangsa modern”.

  4. agung cahyadi Says:

    betul kta ecky klo kehidupan kota yg mengikis kearifan lokal tsb. masyarakat kota besar di indo belum siap menghadapi hal sperti ini. gw pernah sedikit menjauh dr kota jkarta dan merasakan keramahan orang asli indonesia yg sebenarnya.

  5. Lutfi Prayogi Says:

    Wah Gung, dimana tuh? I’d be glad to have a visit.
    Tapi sejujurnya gw tertarik nyari kota yg cukup kota, tp keramahan ‘khas Indonesia’-nya tetap ada. Kalo keramahan orang2 di suatu desa terpencil, ya kurang menarik aja bwt dipelajari.πŸ™‚

  6. fajri Says:

    perbincangan dengan gw inspiratif banget ya yogπŸ˜€

  7. dhay Says:

    kalau bandung? apakah kota yg cukup kota tp keramahan khas indonesia-nya ttp ada, gi?
    katanya kan org indonesia itu ramah2 yah, tp kok kalau gue liat org barat, sepertinya justru lbh ramah yah.. hmm, bersahabat. asik aja gitu ngobrol dg org baru. interaksinya terlihat lbh hidup. apakah karena org indonesia lbh bnyk memikirkan tata krama ya drpd mereka? jd org kita trlihat lbh kaku.

  8. Lutfi Prayogi Says:

    dhay: bandung.. hm, kurang engaged gw. jadi ga bisa ngasi komeng.πŸ˜€

    kalo berdasarkan pengalaman gw, ada beberapa bangsa barat yg emg ramah. orang australia, inggris, sama amerika-kanada lumayan ramah, orang jepang juga. tp beberapa bangsa lain katanya lebih kaku, kaya jerman gitu. ga ngerti dh kenapa.
    ya gw setuju kadang orang Indonesia kaku karena tata krama dan menjaga kesopanan gitu, orang barat lebih terbuka dan asyik. but i think it’s ok.πŸ™‚

  9. Januardi Imam Nugroho Says:

    Itu Fajri-nya Fisip yah Gi ?

  10. Heru Says:

    Di indonesia klo ndak ngobrol gak ngopi itu memang gk afdol. Ciri khas bangsa kita kan memang seperti itu, dan itu baik. Tgl bagaimana kebijkan itu dibuat diruang umum. Membatasi manusia yg lain mengganggu yg lain, namun jg memberikan ruang untuk menimbulkan komunikasi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: