Easy-Going memang bukan tipe saya

http://www.lutfiprayogi.co.cc

This is a short-story themed “Pengalaman Unik Mengisi Mentoring”, it is an assignment on Madrasah Murabbi 2011 held by Yayasan Aisi.

Easy-going memang bukan tipe saya”

Pada libur tengah tahun ajaran 2009-2010 saya berencana mengajak mentee-mentee saya berlibur, sebagai sarana merekatkan ukhuwah kelompok saya. Setelah memikirkan beberapa alternatif tempat, akhirnya saya memilih Pantai Anyer sebagai tempat tujuan, karena menurut salah seorang teman baik saya:

  • Perjalanan hanya sekitar 2 jam sekali jalan
  • Ada pantai gratis di sana
  • Seluruh perjalanan tidak akan menghabiskan uang lebih dari Rp. 50.000,00

Dengan semangat membiayai seluruh pengeluaran dan easy-going (tidak ingin direpotkan dengan rencana perjalanan), saya berangkat dengan uang Rp. 150.000,00 di dompet dan tangki bensin mobil setengah penuh. Walaupun saya rasa bensin akan cukup untuk pulang pergi, entah kenapa saya meminta uang bensin Rp. 100.000,00 pada orang tua.

Perjalanan pun dimulai, dan seiring berjalannya waktu saya mulai menyadari banyak hal yang tidak saya perkirakan sebelumnya.

  • Perjalanan dari Depok menuju Anyer melewati 5 (lima) gerbang tol, yang mebutuhkan biaya sekitar Rp. 45.000,00 sekali jalan.
  • Perjalanan memakan waktu lebih dari dua jam, tepatnya tiga jam.
  • Penggunaan bensin tidak sehemat yang saya bayangkan, baru setengah perjalanan pergi bensi tinggal seperempat tangki.
  • Yang paling buruk, saya tidak menemukan pantai gratis yang disebutkan teman saya. Setelah berputar-putar mencari dan tidak ingin membuat mentee terlalu lama menunggu, saya memutuskan masuk ke salah satu pantai komersil. Setelah mempersiapkan uang 10.000 untuk membayar parkir, ternyata penjaga parkir meminta biaya… Rp. 35.000,00! Saya tidak ada pilihan lain selain membayarnya.
  • Sedikit senang karena telah sampai tujuan, mentee dan saya duduk di salah satu gazebo yang ada di pantai. Kemudian datang salah seorang petugas pantai dan bertanya:

Petugas: “Mau menggunakan gazebo mas?”

Saya: “Oh, emang nyewa lagi ya?”

P: “Iya”

S: “Berapa?”

P: “Lima puluh ribu?”

S: “..”

S: “Oh ngga kok mas, barusan cuma mw ngerapiin barang di tas aja”

P: “Oh iya”

Karena tidak menyewa gazebo alhasil saya hanya duduk di atas sandal di pasir pantai, melihat mentee bersenang-senang sambil menjaga barang.

Setelah puas berenang, kami kembali ke mobil. Saya kemudian menghitung sisa uang di dompet serta seluruh uang receh yang ada di mobil. Setelah menyisihkan Rp. 145.000,00 untuk bensin dan tol, hanya tersisa uang Rp. 27.000,00 sebagai modal hidup saya.

  • Rencana membayarkan makan siang mentee pun gagal. Demi menghemat uang, kami kemudian makan siang tidak di tempat wisata, tapi di suatu rest area  di pinggir jalan tol, beberapa puluh kilo dari tempat wisata. Makan dibayar sendiri-sendiri tentunya. Dan setelah makan saya hanya memiliki uang 17.000 sebagai modal hidup. Entah apa yang harus lakukan dengan uang 17.000 bila terjadi hal yang tidak diinginkan.

Realisasi anggaran perjalanan ternyata jauh dari perkiraan. Pengeluaran total 270.000 saya bayar semua, jauh diatas 50.000 yang digambarkan.

Lama perjalanan sekitar 6,5 jam, setelah dilengkapi dengan berputar-putar di kota Serang dan memasuki pintu tol yang salah.

Begitulah perjalanan saya bila tidak direncanakan sebelumnya. Easy-going memang bukan tipe saya. -.-

11 Responses to “Easy-Going memang bukan tipe saya”

  1. ecky Says:

    pertama, 50 ribu ke anyer untuk rombongan?ckckck.. saran teman baik lo perlu dibahas kembali tuh gi, hhe
    kedua, ini kalo diliat kurang persiapan, hhe
    ketiga, kesalaham berasumsi,😀
    hanya pendapat,
    tapi seru gak gi disana? hhe

  2. Lutfi Prayogi Says:

    @ecky:
    ane setuju semua pendapat nt kok Ky.😀
    dan si teman baik itu, nt kenal lah siapa dia dan komplotannya.😉

    kalo jadi mentor mah, apalagi mentor sma6, pas rihlah gitu ya lebih banyak repotnya daripada enaknya.

  3. fajri Says:

    dari sekian banyak kisah menyenangkan dan penuh perjuangan di sekolah, kenapa lo milih yang ini dah gi?
    maksud kami 50.000 tuh per orang tau, dan di sini lu gak beruntung menemukan pantai gratis nan indah yang kami temui waktu di sana, hehe

  4. Lutfi Prayogi Says:

    @fajri: karena ini pengalaman menyebalkan tw Jri sesungguhnya. sesudah itu gw trauma kalo jalan2 ga pake persiapan.

    sudah2, tidak usah memberikan pembelaan. huh.

  5. nur hasan Says:

    klo dengan persipapan saya kira ceritanya juga sama
    memang saudara lutfi prayogi aja yang agak sial hehe

  6. mayabcdef Says:

    mendingan juga ke mekarsari
    *ketularan Jannah
    hahaha

  7. dea Says:

    hahaha, ampun dah gi.. Makanya, well planned doong kalo mo jalan2, bawa mentee2 lagi.. Untung bisa nyampe depok lagi dgn selamat :p

  8. akakage89 Says:

    Namanya juga hidup Gi, kadang di atas, kadang di bawah. Kebetulan aja lagi dibawah, lagi sulit😀

  9. dhay Says:

    saya turut berduka ya, bung yogi. hehehe.
    kalo urusan jalan2, saya juga bukan yg termasuk easy going kok. harus disiapin sesiap2nya semuanya.

  10. Ariz Says:

    harusnya selalu pake prinsip “selalu lebihkan uang kalo jalan2” hehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: