Industrialisasi Ruang dan Kehidupan Perkotaan

http://www.lutfiprayogi.co.cc

Industrialisasi Ruang dan Kehidupan Perkotaan

Tanggapan pertemuan kelas Arsitektur, Kota, dan Kuasa ke-10

Lutfi Prayogi 0706269230

Film “Manufactured Landscape” sebagian besar menggambarkan proses yang saya beri judul Revolusi Industri Tahap 2 di Republik Rakyat China. Disebut ‘revolusi’ karena ia terjadi secara cepat setelah Reformasi Ekonomi di RRC pada dekade 80-an oleh Deng Xiaoping. Proses revolusi tersebut memberi gambaran jelas mengenai proses industrialisasi ruang dan kehidupan perkotaan di negara tersebut, yang sebetulnya hanya merupakan contoh dari proses-proses serupa di seluruh dunia. Industrialiasi ruang dan kehidupan perkotaan tersebut berakibat pada kecenderungan pengkutuban (polarisasi) ruang perkotaan menjadi daerah yang dilayani (serviced) dan daerah yang melayani (service). Pengkutuban ruang perkotaan tersebut pun membawa dampak-dampak lainnya.

Kecenderungan pengkutuban ini dapat ditelusuri asalnya hingga ke terminologi dari kata ‘industri’ sendiri. Menurut New Oxford American Dictionary, industry adalah economic activity concerned with the processing of raw materials and manufacture of goods in factories. Pada sebuah ‘proses’ selalu terdapat ‘masukan’ dan ‘luaran’. Kehidupan dan ruang perkotaan telah menjadi proses industri yang sangat besar, dengan jarak antara ‘masukan’ dan ‘luaran’ yang sangat jauh. Pada salah satu adegan digambarkan bahwa proses ‘masukan’ terjadi di “Pabrik Tanpa Akhir” di Yanqing yang memproduksi setrika, dan proses ‘luaran’ terjadi di daerah-daerah tempat tinggal, dimana setrika dijual dan dikonsumsi. Di adegan lainnya digambarkan bahwa termasuk sebagai daerah tempat tinggal adalah daerah revitalisasi perkotaan di Shanghai di mana Diana tinggal. Pabrik Tanpa Akhir adalah daerah yang melayani, dan daerah hasil revitalisasi perkotaan di Shanghai adalah daerah yang dilayani, keduanya terpisah sangat jauh namun terikat oleh proses industri.

Pengembangan industri yang ditumpukan pada pengektivitas proses produksi dan distribusi (transportasi, dll) berdampak pada banyak hal, salah satunya adalah kemandirian manusia dari tempat bermukimnya. Dengan kekuatan industri ia dapat merekayasa tempat bermukimnya hingga seperti di luar batas kewajaran. Pada awal peradaban manusia, manusia membangun pemukimannya dengan menggunakan material yang ada di sekitarnya (kayu bagi suku-suku di Asia dll, tanah liat bagi suku-suku di Timur Tengah, es dan salju bagi suku Eskimo, dsb). Setelah Revolusi Industri, baja dan beton menjadi material struktural utama yang digunakan di seluruh penjuru dunia. Baja, tentu saja, adalah produk industri. Bijih baja diekstraksi di suatu tempat, di proses secara beberapa tahap di beberapa tempat lainnya, dan digunakan di tempat lainnya lagi.

Pada masa kini proses industri bagi ruang bermukim bahkan tidak terbatas pada elemen struktural saja, melainkan juga pada elemen hiasan dsb. Marmer Itali digunakan di seluruh dunia, genteng keramik Asia Tenggara digunakan Timur Tengah, kursi rotan Indonesia digunakan di Eropa dan Amerika, dsb. Ruang bermukim orang berada di Indonesia menjadi kajian tentang hyper-realism yang menarik, dimana bahkan sawah dan rumah bambu pun diindustrialisasi dan digunakan di tempat (dan sistem sosial) yang jauh dari tempat asalnya.

Dampak lainnya dari proses industrialiasi dan polarisasi ruang service dan serviced adalah ketidakmampuan masyarakat modern yang sebagian besar tinggal di ruang serviced (di China yang baru mengalami Revolusi Industri saja dikatakan bahwa saat ini 70% penduduknya tinggal di daerah perkotaan) untuk memaknai alam yang menjadi ruang bermukimnya, karena sebagian besar elemen alam di diproses di daerah service. Sebagai contoh, warga Amerika Serikat kurang mampu merasakan betapa derasnya laju pengurangan cadangan minyak bumi di Timur Tengah, sedangkan mobil dan jalan bebas hambatan (yang menjadi alat transportasi utama dan budaya pop mereka) adalah produk olahan dari minyak bumi.

Dapat disimpulkan bahwa proses industrialisasi ruang dan kehidupan perkotaan adalah proses yang terjadi secara luas di seluruh dunia, dan membawa dampak-dampak tertentu. Saya sependapat dengan produser film Michael Ambrossimo, bahwa tidak mudah untuk menyatakan proses ini beserta dampaknya sebagai baik atau buruk. Namun yang jelas, ia terjadi.

 

 

Sumber:

New Oxford American Dictionary

 

One Response to “Industrialisasi Ruang dan Kehidupan Perkotaan”

  1. ashlih Says:

    males bacanya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: