Kekuasaan dan Persepsi atas sebuah Kota

lutfiprayogi.wordpress.com

Kekuasaan dan Persepsi atas sebuah Kota

Tanggapan pertemuan kelas Arsitektur, Kota, dan Kuasa ke-2

Lutfi Prayogi 0706269230

Hal yang cukup menarik yang dapat dicermati dari film New York: A Documentary Film serta bacaan The Death and Life of American Great Cities dan All That is Solid Melt into Air adalah bagaimana dua orang yang memiliki tingkat kekuasaan berbeda mempersepsikan kota-nya. Walaupun persepsi kota bagi mereka juga dibentuk dari faktor-faktor lain: kepribadian terbuka/tertutup, tingkat ekonomi, latar belakang pendidikan, dsb, namun saya rasa dalam konteks ini tingkat kekuasaan Robert Moses dan Jane Jacob-lah yang cukup signifikan mempengaruhi persepsi mereka terhadap kota New York.

Robert Moses adalah seorang walikota: ia memiliki jutaan konstituen, jaringan dengan pengusaha, hubungan yang unik dengan partai berkuasa dan oposisi, hubungan yang unik dengan penguasa di atas dan bawahnya, dsb. Perannya yang sangat banyak dan kompleks tersebut tentunya juga melahirkan banyak kepentingan yang harus ia penuhi: kehidupan dan dukungan jutaan konstituennya, kemudahan investasi bagi para pengusaha, kepercayaan politik dari partai berkuasa dan posisi tawar dengan partai oposisi, dukungan politik dari penguasa di atas dan bawahnya, dsb.

Kompleksitas peran dan kepentingan diataslah yang saya rasa membentuk persepsi-nya mengenai New York, sebuah kota dimana jutaan warga hidup. Jumlah kehidupan yang mencapai jutaan (atau mungkin belas jutaann) menyulitkannya (atau membuatnya tidak mungkin) melihat kehidupan itu secara lebih detil: dalam ribuan, ratusan, apalagi puluhan, kemampuan melihatnya mungkin terbatas hingga dalam ukuran ratus ribuan (sekian ratus ribu tinggal di distrik A, sekian ratus ribu tinggal di distrik B, dsb). Dalam perannya sebagai bawahan dari eksekutif tingkat negara bagian dan federal, ia bahkan ‘dipaksa’ harus melihat New York sebagai keping puzzle kecil pembentuk negara bagian New York dan negara Amerika Serikat beserta keping-keping puzzle (kota-kota) lainnya.

Penglihatan yang ‘terbatas kedetilannya’ tersebut lah, dengan didukung kekuasaannya sebagai seorang walikota, yang dapat melatarbelakangi kebijakan-kebijakan besar revitalisasi kota-nya: jembatan, terowongan, serta  jalan bebas hambatan yang memobilisasi ratusan ribu orang tiap harinya dari satu distrik ke distrik lain, pemukiman kelas menengah kebawah yang dapat menampung puluhan ribu orang serta menciptakan ribuan meter persegi ruang terbuka hijau, pantai yang dapat diakses dan dinikmati puluhan ribu orang dan puluhan distrik, dsb. Dalam skala yang lebih besar, ia bahkan harus mengikuti rencana besar pemerintah federal untuk memobilisasi jutaan orang tiap harinya di Amerika Serikat melalui jalan bebas hambatan antar negara bagian, yang mana salah satu tindakannya adalah mengurangi hambatan trafik di dalam kota.

Jane Jacobs bukanlah seorang walikota, dalam bahasa dan budaya Indonesia saya mengidentifikasi ia sebagai aktivis LSM. Ia tidak memiliki konstituen, ia (idealnya) tidak berafiliasi pada penguasa serta partai politik tertentu, dan ia tidak memiliki kekuasaan eksekutif.

Ia dapat fokus pada peran yang ia geluti, katakanlah pemerhati kehidupan masyarakat perkotaan. Tidak adanya (atau sedikitnya) kepentingan yang mempengaruhinya-lah yang saya rasa membentuk persepsi-nya mengenai New York, sebuah kota dimana orang-orang hidup. Ia dapat memfokuskan penglihatannya pada skala yang sangat detil: puluhan, belasan, dan mungkin saja satuan. Ia dapat melihat detil kehidupan puluhan orang dalam sebuah streetside, belasan anak dalam sebuah taman, bahkan satuan orang (anaknya yang pergi ke taman, ia sendiri yang menitipkan kunci apartemen ke toko kebutuhan sehari-hari di pojok jalan, dsb).

Dan sebagai seorang ‘aktivis LSM’, Jane Jacobs tidak memiliki kekuasaan. Ia hanya dapat menyuarakan pemikiran dan pendapatnya, dan adalah hak penguasa untuk mengikuti pendapatnya atau tidak.

Sebagai kesimpulan awal, dapat disimpulkan bahwa ruang kota sebagai ruang hidup bagi jutaan orang dan jutaan kepentingan, dibentuk oleh berbagai macam pertimbangan, yang mana pertimbangan arsitektural hanyalah salah satunya.

Sumber:

Berlman, Marshall. All That is Solid Melts into Air: The Experience of Modernity. (New York: Simon and Schuster, 1982)

Jacobs, Jane. The Death and Life of Great American Cities. (New York: Random House, 1982)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: