Pendidikan mahal, pendidikan tidak terjangkau, benarkah?

lutfiprayogi.wordpress.com

Ditengah pendapat umum yang mengatakan bahwa semakin hari pendidikan semakin mahal dan semakin tidak terjangkau oleh peserta didik, saya ingin bertanya: Mahal bila dibanding dengan apa? Tidak terjangkau oleh siapa?

Kita semua pasti sepakat bahwa ilmu pengetahuan memang ‘mahal’ harganya, yang bahkan Imam Ghazali menyatakannya dalam ungkapannya yang sangat indah, “… dan yang paling berharga adalah ilmu, yang paling utama adalah iman”. Atau kalau dalam kalimat saya sendiri🙂, “Ilmu pengetahuan adalah perkakas paling berdaya guna dan senjata paling kuat yang dimiliki manusia”.

Nilai intrinsik dari ilmu pengetahuan memang sangat tinggi, karena itu memang wajar bila pendidikan sebagai proses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan membutuhkan banyak pengorbanan dalam pelaksananannya. Mereka yang ingin mendapatkan ilmu pengetahuan tetapi tidak ingin berkorban untuk itu, telah merendahkan nilai ilmu pengetahuan itu sendiri dalam hemat saya.

Pendidikan tidak terjangkau oleh siapa? Oleh mereka yang tidak ingin mengorbankan apapun yang mereka miliki untuk menjangkaunya, dalam pendapat saya. Sudah cukup banyak cerita di negeri dan dunia ini, dimana mereka yang tidak dinilai tidak ‘mampu’ secara ekonomi berhasil menempuh pendidikan yang tinggi, ataupun menyekolahkan keturunannya untuk mendapatkan pendidikan setinggi- tingginya dan sebaik-baiknya.

Walaupun tidak bisa menjadi contoh yang signifikan, tetapi saya selalu mengenang masa kecil saya sebagai contoh dimana pendidikan berkualitas selalu bisa didapatkan bila kita mau berkorban.

Dari kelas I hingga VI SD, Bapak saya hanyalah seorang anggota TNI AD berpangkat Mayor, kemudian Letkol. Pemasukan bersih bulanan tidak besar, mungkin hanya sekitar 2-3 juta. Saya selalu mengingat bagaimana pengeluaran di keluarga saya dihemat:

  1. Bapak saya memutuskan untuk berrumah di Depok, salah satunya karena tanah di Jakarta tidak terjangkau😀. Bapak saya kemudian cukup sering menggunakan KRL Ekonomi rakyat untuk menuju kantor di Kalibata
  2. Tidak ada uang jajan ataupun uang pegangan harian ataupun mingguan ataupun bulanan untuk saya (SD) dan kakak saya (SMP). Seluruh kebutuhan makan dan camilan dibawa dari rumah. Bila ada keperluan pengeluaran, mintalah pada Ibu di rumah.
  3. Tidak ada pengeluaran hiburan, yang kami anggap sebagai kebutuhan tersier, yang berlebihan di keluarga kami:
    1. Saya tidak pernah menonton bioskop hingga saya SMP😀
    2. Saya tidak pernah dibelikan Playstation walau telah merengek sejadi-jadinya
    3. Saya juga tidak pernah diberi uang ketika meminta uang untuk main di rental PS (yang sangat aditif itu)
    4. Keluarga kami hanya 3 kali bepergian jauh (keluar kota) dalam enam tahun tersebut, itupun hanya ke Bandung dan Klaten untuk mudik dan bersilaturahmi dengan saudara
    5. Hanya satu atau dua kali saya makan di McD atau restoran kegemaran anak-anak lainnya dalam enam tahun tersebut
    6. Kami bahkan tidak punya VCD playerI!😀
    7. Pengeluaran hiburan yang saya ingat hanyalah komik Doraemon yang dibelikan untuk saya setiap kali mendapat peringkat pertama  satu caturwulan sekali.😀

Namun kompensasi dari penghematan tersebut sangat berharga, dan sangat saya banggakan hingga saat ini.

Selain menyekolahkan saya di  SD Negeri dan SMP Swasta, saya dan kakak saya juga dimasukkan ke les bahasa Inggris BBC (yang iurannya beberapa ratus ribu per tiga bulan), dari tingkat paling bawah hingga hampir lulus. Kami juga dimasukkan ke TPA (beberapa puluh ribu tiap bulan) dekat rumah.

Bapak membelikan berlangganan koran tiap harinya, dan menyuruh kami membacanya. Bapak juga berlangganan majalah mingguan Gatra, dan lagi-lagi menyuruh kami membacanya.

Bapak bahkan membeli dua set komputer dan berlangganan internet agar kami melek dunia maya. Saya sudah berinteraksi dengan yahoo.com sejak kelas 5 SD.

Sangat banyak jumlah buku agama (kisah 25 Rasul, tata cara sholat, dsb) ataupun buku-buku lain (kisah-kisah pahlawan, ensiklopedia, atlas dunia, dsb) yang dikoleksi Bapak di perpustakaan rumah agar kami turut membacanya.

Dan dari pengalaman itu saya percaya bahwa pendidikan dapat dijangkau oleh siapa pun, bila ia mau berkorban.

Harapan saya, janganlah kita berputus asa atau malah menyalahkan keadaan bila merasa tidak dapat menjangkau pendidikan yang baik. Berkorbanlah, man jadda wajadda!🙂

Dan yang lebih penting lagi, untuk mereka yang telah mendapatkan bantuan pendidikan walau sebetulnya tidak layak menerimanya, dengan kata lain, sebetulnya mereka tetap bisa mengenyam pendidikan tanpa bantuan tersebut bila mereka mau mengorbankan sesuatu miliknya, berkacalah.

Wallahu’alam bisshawab.

7 Responses to “Pendidikan mahal, pendidikan tidak terjangkau, benarkah?”

  1. ashlih Says:

    menarik sekali..

    pantesan komik di rumah lo dikit,haha..

    tapi,
    kalo emang kita mau sekolah dan niat,
    pasti ga ada halangan.
    sekolah aja di sekolah negeri
    bagus kok kualitasnya,
    bilang aja ga mampu bayar bangunan,
    tapi harus mampu untuk belajar giat dan lulus tesnya.
    insya Allah bisa lah..

  2. Lutfi Prayogi Says:

    @aci:
    terima kasih atas kunjungannya,
    jangan lupa infak-nya.

    iya nih,
    masa kecil kurang bahagia.😦

  3. reZa pH Says:

    assalamu’alaykum wr wb.

    umm, saya kurang sepakat. menurut saya, seharusnya peluang untuk mendapatkan pendidikan itu harus sama.

    kalo pendidikan mahal, yang miskin harus mengurus sana-sini untuk mendapatkannya. sedangkan yang kaya tinggal bayar. tentu beda peluangnya.

    tapi emang pandangan bangsa Indonesia terhadap pendidikan emang kurang sih.
    contoh gampangnya liat aja novel laskar pelangi, mendingan jadi kuli kopra dibanding sekolah.

    Allahu’alam

  4. Lutfi Prayogi Says:

    @PH: wa’alaykumsalam wr wb.
    terima kasih atas kunjungan dan komennya PH..🙂

    yah, seperti disebutkan di awal, tulisan ini dimaksudkan untuk melihat realita ‘pendidikan mahal dan pendidikan tidak terjangaku’ dari sudut pandang yang berbeda.
    kalo bahasa orang hukum, dissenting opinion-nya.😀

    terima kasih atas pendapatnya.

  5. nikenSp Says:

    menarik. tapi maaf, kehidupan Anda bukan merupakan patokan kemiskinan di Indonesia. Anda masuk golongan menengah, bukan bawah.

    jargon “berkorban untuk pendidikan” itu sudah disalahkan oleh oknum tertentu yg ingin memperkaya dirinya sendiri lewat proyek pendidikan. sama seperti jargon “guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa” yg malah digunakan oknum tertentu sebagai alasan untuk bayar guru dengan upah yg minim.

    banyak anak yg tdk punya VCD player, tidak punya playstation, bahkan tidak punya internet sekalipun (kalau Anda masih mending, punya layanan internet di rumah) tetap tidak bisa disekolahkan di sekolah yang layak. kalau memang ada, pasti 1: 1000.000. hitung saja ada berapa banyak inspiring story di internet, mengenai org yang memulai dari nol sampai benar-benar sukses. bisa dihitung dengan jari bukan?🙂

  6. Lutfi Prayogi Says:

    terima kasih atas komentarnya mbak Niken,, salam kenal..

    maksud saya, masih cukup banyak orang ‘miskin’ di Indonesia yang belum memprioritaskan pendidikan. salah satu buktinya, ada penelitian yang mengatakan bahwa beberapa puluh persen orang menengah bawah di Indonesia yang mengeluarkan 8-10 % persen uangnya untuk rokok, 4% untuk kesehatan, 2% untuk pendidikan.🙂

  7. Agung Cahyadi Says:

    Salam,

    udah keliatan sejak gw kenal lw. like this

    Trims.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: