Kebijakan SBI, tepatkah?

lutfiprayogi.wordpress.com

Ini adalah komentar saya, sebagai orang awam (dan insyaallah calon orang tua :D) yang peduli pendidikan di Indonesia, mengenai luaran dan proses dari kebijakan (Sekolah Bertaraf Internasional) SBI. Terlepas dari rendahnya kualitas komentar ini, semoga tulisan ini bisa menjadi pemicu setiap pihak untuk terus mengevaluasi kebijakan pendidikan di Indonesia, sehingga tujuan pendidikan di Indonesia dapat terwujud yaitu menciptakan manusia Indonesia seutuhnya.😀😀

Pada awalnya saya sangat mengapresiasi kebijakan SBI, dengan visinya mengakselerasi penciptaan insan-insan Indonesia bertaraf internasional, dengan penekanan pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Visi tersebut coba diwujudkan melalui penggunaan TIK dalam pembelajaran, penggunaan bahasa asing, sisipan materi bertaraf internasional, serta akselerasi peningkatan kualitas pendidik melalui pemberdayaan dosen-dosen PTN ternama sebagai pendidik di sekolah.

Kejanggalan mulai saya rasakan ketika dari omongan umum yang ada, yang saya percaya sumber-sumbernya, bahwa kurikulum SBI sedemikian padatnya sehingga perhatian pada kegiatan diluar kurikulum (ekstra kurikuler, pengembangan akhlak dan moral, kegiatan keagamaan) menjadi berkurang cukup signifikan. Dikatakan bahwa setiap hari Senin-Kamis siswa belajar dari pukul 07.00 hingga 15.30, dan Jum’at dari 07.00 hingga 11.30. Sepulang sekolah siswa masih banyak yang mengikuti les-les diluar sekolah untuk menunjang pencapaian akademis juga.

Saya berpendapat bahwa kebijakan seperti ini tidak menjawab masalah bangsa Indonesia yang sebenarnya, yaitu rendahnya mental positif. Dalam hemat saya, bangsa Indonesia belum menjadi bangsa yang maju dan beradab bukan karena tidak dikuasainya ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan karena tidak bermental bangsa yang beradab. Kebijakan SBI seakan tidak menjawab masalah ini.

Beberapa masalah bangsa yang paling utama, kita ambil contoh korupsi, tentu bukan karena orang-orang yang terlibatnya tidak menguasai iptek, melainkan karena bermental dan bermoral buruk: tidak jujur, tidak taat hokum, menghalalkan segala cara, sisa budaya feodalis, dsb.

Saya berani berkata bahwa sebagian kecil bangsa Indonesia yang sangat menguasai iptek, bahkan dapat dikatakan ia ‘bertaraf internasional’, tetap memiliki mental negatif sebagaimana bangsa Indonesia umumnya.

Saya pernah bertanya kepada 3-4 orang teman yang kuliah di UI, universitas terbaik di Indonesia, 2 diantara mereka bahkan ber-IPK cum laude, apakah mereka membayar denda tilang dengan benar (di pengadilan atau di BRI) ketika terkena tilang? Tidak satupun menjawab iya, semuanya membayar uang damai pada polisi. Ironis bukan.

Sebagian lagi bahkan menganggap mengikuti tes SIM secara benar dan jujur adalah hal yang aneh, dan membayar calo atau uang ekspres kepada polisi ketika membuat SIM  adalah hal yang biasa.

Salah satu pasangan calon ketua-wakil ketua BEM UI 2010 memalsukan puluhan atau ratusan tanda tangan untuk dapat maju menjadi kandidat.

Budaya mencontek dan titip absen masih sangat biasa bagi mahasiswa UI.

Dan lain sebagainya.

Saya berpendapat sebagai bagian dari pendidikan menengah, SBI tingkat SMA dan setaranya haruslah tetap memberikan perhatian yang sangat besar pada pembentukan mental dan karakter peserta didiknya, mengingat bahwa umur 15-17 masih termasuk kategori umur remaja yang kepribadiannya belum sepenuhnya terbentuk. Pendidikan yang sangat menitikberatkan pada penguasaan iptek biarlah menjadi urusan pendidikan tinggi, karena sejatinya para peserta didiknya telah memiliki kepribadian yang cukup kokoh.

Walllahua’lam  bisshawab.

7 Responses to “Kebijakan SBI, tepatkah?”

  1. Danar Says:

    Two thumbs up for your opinion. This nation needs “a new generation who has good personal values”. Inilah alasan kenapa gw masih ikut liqo.

  2. Rama Says:

    Iya juga, dengan adanya SBI pendidikan malah jadi mahal ya,
    hanya untuk orang yg berduit…

    Kalau sekolah sudah sampai sore, kenapa juga harus ikut les???

  3. Lutfi Prayogi Says:

    @jijat:
    I agree with you.
    college and its derivations give us valuable tools and powerful weapons.
    and liqo gives us the drivers, the right drivers for me, personally.
    🙂

  4. dea Says:

    bagus! SBI memang tidak menjawab!
    ada solusi kongkrit,gi? (di tulisan selanjutnya ya! ditunggu) ^^

  5. Lutfi Prayogi Says:

    @Dea: terima kasih atas komentarnya Dea..

    solusi konkret..
    hm,, ditunggu aja ya.. Insyaallah ada usaha kesana..🙂

  6. ashlih Says:

    yoi pisan..

    rasanya awak udah pernah komentar disini tapi kok ga muncul y?
    jangan jangan lo not approve y?
    haha
    yaudahlah, gw merasa ga ahli pake wordpress nich

  7. Lutfi Prayogi Says:

    @aci: iya g gw approve. wkwkwk.
    g ada kok Ci.

    jailah mo make wordpress aja pake ahli2an sgala.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: