Menjaga komitmen berbuat kebaikan

lutfiprayogi.wordpress.com

Tidak, tidak. Menjaga komitmen berbeda dengan menjaga semangat. Sebuah komitmen sejatinya mencitpakan semangat, namun semangat tidak selalu merupakan bukti adanya komitmen. Pernyataan “jika seseorang berkomitmen maka ia bersemangat” tidak ekuivalen dengan pernyataan “jika seseorang bersemangat maka ia berkomitmen”.

Hadits Arbain  yang pertama berbunyi:

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. …”

Ya. Setiap perbuatan kebaikan pasti diawali dengan sebuah niat, dan hanya niat yang tepatlah yang menyebabkan perbuatan kebaikan tersebut dengan commited akan selalu dilakukan oleh pelakunya. Kiranya setiap niat akan membawa konsekuensi tersendiri akan hasil yang didapat dari perbuatannya.

Berbuat kebaikan dengan niat mendapatkan dunia, akan menyebabkan dunia menjadi milik kita. Namun kiranya dunia itu habis kita nikmati, habis sudah. Tidak ada alasan lagi bagi kita untuk melanjutkan perbuatan yang telah kita lakukan.

Atau mungkin, setelah sepenuh daya kita berbuat kebaikan dengan niat mendapatkan dunia, ternyata dunia tak kunjung kita raih. Dan putus asalah kita.

Atau mungkin, sebelum sempat dunia yang kita niatkan untuk miliki berhasil kita raih, jiwa kita telah berpisah dengan raganya.

“Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.”

(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kita Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang).

Dan hanya niat untuk mendapatkan ridho Allah-lah yang akan menjaga kita tetap komitmen dalam berbuat kebaikan. Ridho Allah atas kita untuk memasuki surgaNya dan bertemu denganNya; suatu keadaan yang bila dinilai dari keadaan kita saat ini, amat jauh kita darinya; namun bila ditilik dari sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang Allah, amat mungkin kita dapatkan. Suatu keadaan yang bila diukur dari timbangan amal kita berbanding nikmat yang kita terima, maka amat jauh kita darinya; namun bila dilihat dari bagaimana Allah melihat proses tobat dan penyerahan diri kita padaNya, amat dekat kita dengan ridho-Nya.

Sesungguhnya komitmen yang kuat untuk selalu berbuat kebaikan, harus dimulai dengan niat ikhlas beribadah padaNya, tak lebih dan tak kurang.

Wallahualambisshawab.

*teruntuk seorang sahabat dan seluruh umat Muslim di seluruh penjuru jagat raya Allah.

One Response to “Menjaga komitmen berbuat kebaikan”

  1. Rama Says:

    Itulah mengapa para ulama salfus sholih selalu memulai
    kitab mereka dengan bab Niat..

    termasuk hadits Arbain karangan Imam An Nawawi..

    Tak pernah cukup untuk mengkaji dan terus mengkaji
    niat dan keikhlasan..

    Syukron sudah berbagi…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: