Pembangunan Jakarta dan Tatanan Baru Masyarakat Ibukota

Jadi ceritanya ini esai UAS makul Sejarah Arsitektur 2..

Have fun reading it..😀

 

Pembangunan Jakarta dan Tatanan Baru Masyarakat Ibukota

Oleh: Lutfi Prayogi 0706269230

 

Pada tahun 1950 ketika Indonesia kembali menjadi negara kesatuan, mantan Presiden Soekarno merasakan perlunya sebuah ‘ibukota’, sebuah kota yang dapat menjadi kebanggaan bangsa Indonesia dan menjadi ‘Wajah Muka Indonesia’. Dengan beberapa pertimbangan tertentu ditetapkanlah Jakarta sebagai Ibukota Republik Indonesia. Selama 59 tahun kemudian Jakarta mengalami pembangunan yang berkelanjutan, dan salah satu dampak pembangunan tersebut adalah terciptanya tatanan masyarakat dan ruang baru di Ibukota, yang bercirikan non-feodal & non-SARA namun cenderung kapitalis.

Jakarta pada tahun 1950-an adalah seperti sebuah kampung besar, sebuah pemukiman multi-ras dan multi-golongan yang cenderung tak beraturan dan tertinggal dalam hal infrastrukur. Untuk memahami konteks ‘kampung’ di kota Jakarta, ada baiknya memahami latar belakangnya dahulu.

Sejak abad ke 7 Masehi telah terdapat beberapa kerajaan besar di Indonesia, lengkap dengan sistem sosial feodalnya. Pembagian kasta dalam ajaran Hindu mungkin menjadi asal dari sistem feodal ini; dalam suatu area kerajaan terdapat golongan agamawan, bangsawan, pedagang, rakyat jelata, budak, dsb.

Jejak sejarah membuktikan bahwa sistem feodal ini tetap bertahan hingga abad 17, walaupun dengan bentuknya yang lain, yang cenderung lebih ‘halus’. Ketika kerajaan Mataram Islam terpecah menjadi 4 kerajaan, Sultan Hamengku Buwono 1 dari Kesultanan Yogyakarta dan Mangkunegara dari Susuhunan Surakarta menyusun kota mereka dengan pembagian ruang yang jelas; pusat kota adalah wilayah keluarga keraton, agak keluar namun masih didalam dinding keraton adalah wilayah bangsawan (dalem), bagian luar keraton adalah wilayah rakyat biasa (luar).

Dengan alasan politis dan ekonomi, pemerintahan Belanda menciptakan tatanan kelas masyarakat baru; kelas satu yaitu bangsa Eropa, kelas dua yaitu bangsa Timur Jauh, kelas 3 yaitu bangsa Pribumi. Pembagian kelas ini tergambar jelas dalam tata kota-kota besar dimana Belanda berkuasa penuh, seperti Batavia, Soerabaja, Semarang, dsb. Pada kota-kota tersebut terdapat daerah pemukiman khusus bangsa Eropa, bangsa Timur Jauh, dan bangsa Pribumi.

Pada tahuan 1900-an, ketika Tanam Paksa dihapuskan, Politik Etis diberlakukan, dan kebangkitan nasional mulai bergema, pembagian kelas masyarakat tersebut mulai melunak. Kota-kota besar sebagai pusat perekonomian mulai menjadi magnet bagi warga-warga di daerah dari suku apapun yang ingin memerbaiki kehidupannya. Gelombang urbanisasi mulai membesar, dan dengan melunaknya tatanan pembagian kelas masyarakat, kaum urban mulai mendiami daerah-daerah mana saja yang kosong di kota, sesuai dengan kemampuannya. Pada saat inilah terbentuk kampung-kampung di kota-kota besar.

Beberapa ciri khas kampung anatar lain adalah perkembangannya yang alami dan cenderung tidak terencana, menciptakan jalan-jalan yang berliku-liku tanpa pola tertentu dan hanya mengikuti kontur tanah, adanya gang-gang berstatus ‘abu-abu’ yang muncul dari adanya lahan kosong, bangunan-bangunan yang tidak seragam namun sebagian memiliki kemiripan dalam hal bentuk & material.

Pada akhir dekade 1950-an ketika Jakarta mulai dibenahi dan kesan ‘ketertinggalan’ (underdevelopment) ingin dihilangkan dari ‘kampung besar’ Jakarta, beberapa proyek raksasa dilaksanakan untuk mengubah Jakarta dari sebuah ‘kampung besar’ menjadi sebuah ‘metropolis’. Salah satu proyek tersebut adalah pembangunan Jl. MH Thamrin & Jl. Jenderal Sudirman, yang mana disepanjang koridornya direncanakan akan menjadi pusat ekonomi dari Jakarta. Tiga bangunan tinggi pertama di koridor tersebut: Sarinah, Wisma Nusantara, dan Hotel Indonesia, dijadikan pemicu agar para investor asing dapat melihat Indonesia sebagai negara berkembang yang tepat untuk mendapatkan investasi. Secara tidak langsung, kapitalisme-lah yang terpilih untuk membenahi ketertinggalan ‘kampung besar’ Jakarta, mengubahnya menjadi sebuah metropolis.

Anggapan umum yang berkembang adalah metropolis merupakan kota yang dipenuhi bangunan-bangunan tinggi, jalan-jalan lebar, flyover, dsb. Menarik untuk diperhatikan mengenai pandangan umum yang menganggap bangunan tinggi sebagai sebuah tanda kemajuan. Nampaknya ini tidak lepas dari citra arketipe bangsa Indonesia yang menganggap bentukan alam besar dan tinggi seperti gunung sebagai sesuatu yang sakral, sebagaimana dalam legenda Gunung Meru.

Kapitalisme, terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, memiliki kesamaan dengan tatanan sosial dan ruang yang sebelumnya telah ada di kampung; non-rasial dan non-feodal. Semua orang adalah sama dimata uang, siapa yang memiliki modal (uang) maka ialah yang menang.

Selain itu, Jakarta sebagai pusat pergerakan kebangsaan dimana semangat nasionalisme begitu bergelora, menghendaki agar tatanannya masyarakat tidak lagi feodal ataupun berdasarkan SARA. Karena apapun latar belakang seseorang, ia adalah bangsa Indonesia juga. Kapitalisme jugalah yang akhirnya terpilih untuk mewujudkan cita-cita ini.

Nampaknya benar pendapat dari filsuf Prancis Deleuze, “kapitalisme bersifat schizophrenic, ia merusak tatanan masyarakat yang telah ada, dan dalam prosesnya ia dapat memanfaatkan tatanan-tatanan yang telah ada ataupun menciptakan tatanan-tatanan yang baru”. Tatanan yang akan ‘dirusak’ adalah tatanan feodal dan SARA yang tersisa serta tatanan yang dimanfaatkan adalah tatanan kampung yang telah ada. Sedangkan tatanan baru yang muncul adalah penempatan kampung menjadi salah satu kelas di masyarakat, seperti yang terjadi di Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia. Pada proses pembangunan Jakarta muncul dikotomi-dikotomi baru, ‘kota’ dan ‘kampung’, ‘formal’ dan ‘informal’, ‘modern’ dan asli’, dsb.

Bagian ‘kota’ dan ‘kampung’ kemudian berdiri berhadap-hadapan; dibalik kompleks pencakar langit perkantoran perusahaan multinasional yang bagian depannya berbatasan dengan jalan raya 5 lajur, berdiri ‘lautan’ rumah-rumah satu tingkat dengan gang-gang selebar 3 meter. Bagian ‘kota’ sebagai produk utama dari kapitalisme tersebut, tentu akan terus berkembang.

Sebagian besar bagian ‘kota’ berkembang secara komensialisme (tidak memengaruhi langsung) terhadap bagian ‘kampung’. Dengan kebijakan tata kota, telah disediakan lahan-lahan luas untuk pembangunan jalan-jalan, menara-menara, dan jembatan-jembatan baru.

Secara holistik, bagian ‘kota’ besimbiosis mutualisme dengan bagian ‘kampung’. Para pekerja kantoran mencari makan di warung-warung kecil, bertempat tinggal di kos-kosan kecil, memanfaatkan jasa joki 3-in-1 yang tinggal di kampung, dsb.

Namun, dalam prospek kedepannya bagian ‘kota’ akan semakin bersimbiosis parasitisme dengan bagian ‘kampung’; bagian ‘kota’ sebagai produk pengembangan kota berbasis kapitalisme akan terus berkembang dan membutuhkan lahan baru , kemungkinan besar lahan bagian ‘kampung’-lah yang akan dikorbankan. Simbiosis mutualisme yang disebutkan diatas hanya menjadi pendukung proses perkembangan bagian ‘kota’; kapitalisme memang bersifat schizophrenic.

Namun pada dekade 1990-an, perkembangan kota-kota besar menemui tren baru; kota mandiri. Pola pembangunan Jabodetabek pada masa-masa sebelumnya, dimana Jakarta hanya difokuskan pembangunannya sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi dengan gedung-gedung tingginya (yang dianggap sebagai lambang kemajuan), sedangkan perumahan landed house (yang dianggap sebagai lambang ‘ketertinggalan’) dibangun di kota-kota satelit, menemui berbagai masalah transportasi, inefisiensi & inefektivitas, rendahnya kualitas hidup, dsb. Pola tersebut coba diganti dengan adaptasi kota taman Sir Ebenezer Howard; sebuah kota dimana perumahan, perkantoran, industri, dan lahan hijau dapat berdiri bersama.

Kota-kota mandiri ini bertumpu pada dua hal: lengkapnya fasilitas (pendidikan, kesehata, komersial, hiburan, dsb) sehingga warga dapat memenuhi kebutuhannya di ‘kota’ tersebut, dan akses yang baik (jalan tol, kereta api, bus, dsb) ke Ibukota sehingga warga tetap terhubung baik dengannya.

Pada kota-kota mandiri ini dikotomi ‘kota’ dan ‘kampung’ tidak lagi ditemukan. Kompleks perkantoran tinggi dan perumahan landed house sama-sama merupakan bagian yang telah direncanakan seksama, tidak akan saling merugikan. Kota mandiri merupakan jawaban utopis atas kesahalan pembangunan-dikotomisasi pada Jakarta di era sebelumnya.

Tanpa adanya kelas ‘kota’ dan ‘kampung’ di kota mandiri, tatanan masyarakat dan ruang bersifat lebih non-feodal dan non-SARA. Namun menarik diperhatikan, biaya hidup di kota mandiri dapat saja lebih besar dari biaya hidup di bagian ‘kampung’ dari Jakarta. Promosi kota mandiri pada gambar yang menggunakan Bahasa Inggris, ditengah kampanye penggunaan Bahasa Indonesia, bertujuan untuk menimbulkan kesan ekslusif dan prestisius bagi warga kota mandiri tersebut. Sekali lagi tatanan masyarakat tersebut diciptakan dengan kapitalisme.

Dapat disimpulkan, pembangunan Jakarta berdampak pada terciptanya tatanan masyarakat dan ruang yang non-feodal dan non-SARA. Penggunaan kapitalisme pada pembangunan tersebut cenderung berdampak akan terciptanya tatanan masyarakat yang cenderung kapitalis juga.

 

Sumber:

Kusno, Abidin. Behind the Postcolonial: Architecture, Urban Space, and Political Culture in Indonesia. (London & New York: Routledge, 2000)

Tjahjono, Gunawan. Indonesian Heritage: Architecture. (Singapore: Archipelago Press, 1998)


 

Posted in kuliah. 1 Comment »

One Response to “Pembangunan Jakarta dan Tatanan Baru Masyarakat Ibukota”

  1. 2010 in review « notes of lutfiprayogi Says:

    […] Pembangunan Jakarta dan Tatanan Baru Masyarakat Ibukota May 2009 Possibly related posts: (automatically generated)#1 Page and Top 3 Posts In 2009Reboot11,000!!! 0.000000 0.000000 Posted in Tak Berkategori. Tags: about me, blogging, general, writing. Leave a Comment » LikeBe the first to like this post. […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: