pergerakan

Hm. Coba bayangkan.

 

Sekitar 1300 tahun yang lalu, ketika Nusantara masih berada di bawah kekuasaan Majapahit. Masyarakat sedang berjual beli di pasar yang ramai, dengan perbudakan masih hidup dan para budak diperjualbelikan dengan umum. Kemudian ada pamong-pamong kadipaten yang bertindak atas nama adipati, meminta upeti dari rakyat untuk sang upeti. Para rakyat kelas bawah membayar, namun para rakyat darah biru dapat berkompromi dengan sang adipati. Para adipati pun membayar upeti kepada raja Majapahit, yang mana beliau sedang sibuk berdiskusi dengan para pembantunya bagaimana caranya memperkuat pertahanan daerah perbatasan dengan kerajaan tetangga, karena setiap saat kerajaan tetangga dapat saja menyerang Majapahit dan mencaplok daerahnya.

 

Kita pindah beberapa ribu kilometer ke arah barat 500 tahun kemudian, ke sebuah pelabuhan di bernama Basra. Ketika itu sang khalifah yang adil sedang berkuasa, dan rakyat hidup sejahtera. Pasar-pasar dipenuhi pedagang dari seluruh penjuru dunia. Di sebuah lapangan terlihat seseorang sedang dihukum cambuk karena berzina. Di perpustakaan banyak cendekiawan yang sedang berdiskusi. Di istana yang megah sang khalifah sedang berdiskusi dengan pembantunya tentang perkembangan kekuatan imperium Roma dan Persia.

 

Kita pindah lagi sekitar 50 kilometer ke utara 800 tahun kemudian. Di kota bernama London orang-orang berjalan cepat menuju kantornya dengan blazer dan jas-nya. Mobil-mobil berseliweran di jalan raya, begitu juga metro-metro di bawah tanah. Gedung-gedung menjulang tinggi, kota terlihat begitu rapi dan bersih. Di suatu lapangan terbuka sekelompok orang sedang meneriakkan tuntutan untuk penanggulangan pemanasan global, dan di dekat mereka poster raksasa bergambar calon perdana menteri terpampang jelas.

 

Yah, itulah peradaban.

Hm? Yang mananya? Itu yang mana?

Ya itu.

Sekelompok manusia dengan tingkah lakunya serta segala hal mengenai manusia tersebut yang saling berkaitan dengan membentuk sebuah sistem yang luar biasa kompleks,

Itulah peradaban.

 

Dan kita yang kritis harusnya bertanya.

Siapa yang membuat peradaban itu?

 

Sejarah terkadang menjawab pertanyaan tersebut.

Kaisar Meiji memulai peradaban ‘masa pertahanan’ ke kepulauan Jepang.

Nabi Muhammad SAW membawa peradaban Islam ke seluruh dunia.

Dan Adolf Hitler membawa peradaban Nazi ke Jerman.

 

Walaupun terkadang sejarah pun tak mampu menjawabnya.

Siapa yang menciptakan peradaban ‘bertahan-dan-menyerang’ pada kerajaan-kerajaan awal di Indonesia?

Siapa yang mengenalkan peradaban hedonisme ke Amerika?

Atau siapa yang memulai peradaban ‘satu-negara-adalah-untuk-satu-bangsa’ di seluruh dunia?

 

Itulah misteri peradaban.

 

Namun yang pasti, peradaban dimulai dari sebuah pergerakan.

Kaisar Meiji, Nabi Muhammad SAW, dan Adolf Hitler tentunya tidak hanya diam dan kemudian peradaban itu datang.

 

Mereka bergerak, dan memulai pergerakan.

 

Bergerak.

 

 

 

Karena itu,

Bergeraklah.

 

Bergeraklah dan kemudian dengan lantang katakan:

“Selamat datang peradaban”.

 

Namun untuk hasil yang jauh lebih baik,

Bayangkanlah peradaban itu lebih dulu jauh-jauh hari,

Dan kemudian bergeraklah.

 

Begeraklah.

 

 

Karena air akan keruh apabila tidak bergerak, begitu juga manusia.

 

 

Dan karena pemuda adalah agen pergerakan.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: