membayangkan

Gw ngebayangin nih ya, kehidupan gw sekitar 30 tahun dari sekarang.

 

Gw udah punya agensi properti sendiri (Amin!), dan gw baru pulang dari luar negeri. Gw masuk ke Indonesia dari bandara di Jonggol, ‘coz ibukota pemerintahan Indonesia udah pindah ke Jonggol. Dari tuh bandara gw naik kendaraan umum ke Depok, ‘coz kendaraan pribadi udah selangit harganya pada saat itu.

Gw ngelewatin jalan tol yang ada di tengah Jl. Ir. H. Juanda, Depok. Trus gw masuk ke Depok 2, Jl. Sentosa Raya ma Jl. Kemakmuran Raya udah jadi 4 jalur 2 lajur, udah jadi pusat perekonomian Kec. Sukmajaya. Di sepanjang jalan itu ada mal, apartemen, dll.

Gw sampe rumah. Sekitar rumah gw udah g ada tanah kosong lagi. Udah jadi pemukiman padat penduduk. Tapi halaman rumah gw tetep ada. Bokap Nyokap gw yang udah pensiun insyallah bakal ngerawatnya. Well, itu kalo gw masih bisa menemukan mereka di rumah yang memang mereka rencanakan buat menjadi rumah hari tua mereka. Kalo memang mereka masih ada. Gw ngeliat kamar gw yang cat-nya dulu berwarna biru, dan mungkin gw masih bisa menemukan foto Rohis atau Intifadhah di sana.

Gw ke Depok 1. Dan di lahan bekas SMA 1 sudah berdiri kawasan wisata Situ Lio. Mungkin dengan sedikit keberuntungan gw masih bisa menemukan bangunan-bangunan lama bekas ruang-ruang kelas.

Gw sedikit beranjak ke arah Jakarta, namun gw g bisa menemukan rumah Fajar di sana. Jl. Nusantara Raya juga udah diperlebar. Kalopun rumah Fajar masih ada, kecil kemungkinan gw bisa menemuka Fajar di sana.

Gw lalu menyusuri Jl. Nangka. Dan sebuah rumah sederhana yang disulap menjadi sebuah lokasi bimbel tempat gw pernah mempersiapkan diri untuk gerbang masa depan gw udah berubah total. Di sepanjang jalan itu kini berdiri barisan ruko-ruko bertingkat yang sangat padat.

 

Dan ketika gw menemukan semuanya telah berubah, tepat ketika gw sedang mengenang masa-masa awal perjuangan gw, gw akan mengarahkan perjalanan gw ke Cimanggis-hampir-Cibubur. Walopun cukup dapat dipastikan gw ga bisa menemukan di di sana. Mungkin dia ada di sebuah rumah besar di suatu daerah yang cukup jauh dari keramaian kota Jakarta.

 

Dan pada saat itu gw juga menyadari, sekitar 30 tahun sebelumnya gw pernah takut untuk membayangkan apa yang akan terjadi di kehidupan gw saat itu.

One Response to “membayangkan”

  1. faisol Says:

    terima kasih sharing info/ilmunya…
    saya membuat tulisan tentang “Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: