balada sang angkutan kota

nama kerennya angkot.

kalo gw sih suka menganalogikan benda bergerak itu sebagai binatang. ya, binatang, atau kata lainnya, hewan. bukan bukan, ini bukan seperti omongan-emosional-spontan yang sering diucapkan oleh para supir ‘binatang’ tersebut ketika disalip oleh sesamanya atopun oleh kendaraan lain (contoh: anj*piip*, ba*piip*). ini adalah sebuah analogi, ya, perumpamaan. walaupun tidak terlalu ilmiah, tapi gw bisa ngejelasin kenapa gw menganalogikan begitu.

manusia hidup dengan aturan, setuju? dalam kehidupannya manusia selalu bertemu dengan aturan2, yang dengan aturan2 itu manusia saling memenuhi kebutuhannya dan tidak merugikan sesamanya. berbeda dengan binatang, yang tidak bisa diatur dengan aturan, kecuali aturan alam buatanNya.

pun demikian di jalan raya. setiap manusia yang berkendara (sewajarnya) mematuhi peraturan di jalan raya. tapi angkot?

binatang saya menganalogikannya. tersebutlah suatu jalan di kota depok yang bernama jalan margonda raya. jalan tersebut terdiri dari 3 jalur untuk satu arah, yang berarti pada saat macet bisa digunakan untuk mobil berbaris dalam 4 kolom. dan bayangkan, angkot2 biadab mengambil 3 kolom buat ngetem (di jam2 biasa), dan hanya menyisakan 1 kolom sempit untuk mobil melaju dalam kecepatan dibawah 40km/jam. di pertigaan jalan proklamasi raya (berbentuk T), adalah biasa untuk menemukan ada angkot berhenti dan menutup kedua lajur jalan untuk berbelok ke arah kanan dan kiri. mereka berhenti dan ngetem, untuk selanjutnya seenaknya berbelok ke kanan dan kiri. dan di pertigaan polsek sukmajaya (bentuk T juga) adalah biasa untuk menemukan angkot ngetem di titik pertemuan jalan yang vertikal dan horizontal, gampangnya, bener2 di tengah pertigaannya! ketika satu waktu mobil saya melambat, membunyikan klakson dan berhenti di sampingnya, dia malah berteriak menghina kasar.

hh, sabar.. mereka memang binatang (baca: kendaraan yang tidak punya aturan)

baik, kita masuk ke pembahasan ilmiahnya, berangkat dari semua fenomena diatas.

seperti telah saya kemukakan di postingan sebelumnya, transportasi masal terakhir di jakarta adalah trem. trem adalah kendaraan umum yang bisa mengangkut banyak orang, dan hanya berhenti di halte-halte tertentu. ketika ia dihapus, pola pikir bahwa kendaraan umum itu sebaiknya besar-mengangkut-banyak-orang-dan-hanya-berhenti-di-tempat-tertentu nampaknya turut terhapus.

setelah pola pikir dan sistem transportasi tersebut terhapus, secara alami sistem transportasi yang lebih tradisional berkebang kuantitasnya, untuk mengatasi demand transportasi masyarakat. berkembanglah angkot, wujud nyata sistem transportasi primitif tersebut. angkot hanyalah merupakan kendaraan kecil-dan-murah, dapat dibeli dan dimiliki oleh hampir siapa saja asal punya uang cukup, silakan beroperasi kapan saja di rute yang ada, silakan angkut orang-orang semampunya, silakan berhenti di mana saja kapan saja (kecuali polisi melarangnya), dan silakan-silakan lainnya. intinya, angkot adalah sistem transportasi primitif untuk negara berkembang, dimana sistem yang diterapkan hanya mengatur trayek, tarif, dan perizinan armada.

untuk masalah sekrusial manajemen pemasukan armada angkot pun tidak diatur jelas oleh pemerintah. yang berlaku adalah, silakan ‘tarik’ orang sebanyak2nya, setor sekian pada juragan, dan sisanya untuk supir angkot. jaminan pemasukan untuk supir angkot? hahaha.

intensitas armada dan perbandingannya terhadap demand mobilitas masyarakat? hahaha (lagi). lihatlah di jalan raya pada jam2 biasa, lebih banyak angkot daripada orang yang berdiri menunggu di pinggir jalan, lebih banyak angkot daripada kendaraan pribadi, dan setiap angkot hanya berisi 3-4 penumpang. sungguh menyedihkan.

standarisasi kualitas armada angkot? (paling) hahaha. temukannlah angkot dengan lampu rem dan lampu sen yang tidak menyala sama sekali, dan temukan juga angkot full-stereo.

standarisasi kualifikasi supir angkot? hh. dari kakek2-yang-sungguh-sedih-kalo-kita-bayar-dibawah-tarif sampai anak-ingusan-17-tahun-yang-bawa-angkot-ugal-ugalan-hingga-tidak-ikhlas-rasanya-kita-bwt-bayar-tarif. SIM pengemudi? sudah tw kan seberapa buruk integritas ditlantas polri kita? untuk para supir angkot, mereka bahkan memiliki standar integritas yang lebih buruk lagi.

intinya adalah, angkot adalah jenis transportasi umum yang amat minim peraturan, sehingga dalam kesehariannya mereka memang seakan-akan tidak punya peraturan, dan tidak terlalu berlebihan kalau kita menganalogikannya sebagai ‘binatang’ di jalan raya. munculnya ‘binatang’ ini adalah akibat dari minimnya perhatian pemerintah atas pengembangan sistem transportasi umum yang layak di Jakarta dan kota2 besar lainnya di Indonesia.

ini adalah sekuel dari postingan saya yang terdahulu mengenai transportasi umum Jabodetabek, nantikan sekuel selanjutnya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: