balada sang angkutan kota bagian 2

Alkisah akhirnya gw dan temen2 gw (Watti, Sarie, Nanda, Riky) bercengkerama tentang angkot. Gw dan Riky sepakat bahwa susah banget menahan esmosi di jalan raya, terutama pas ketemu angkot. Sedangkan si Sarie berkomentar kalo digituin ma angkot maka ucapkan dalam hati “Y udah sih sabar aja”. Sungguh aneh, dasar ban*i.

Pas gw bilang angkot itu bisa dianalogikan dengan binatang, Riky tidak berkomentar (kayanya sih setuju), sedangkan Nanda dan Fajri sedikit menolak, “g gitu juga Gi”, dan si Sariefajri dengan anehnya berkomentar “kan didalemnya manusia juga”. Ya iyalah, masa isinya lele dumbo?

Singkat kata, ntah tepat atau tidak tepat angkot dianalogikan sebagai binatang, gw tetep dalam pendapat gw bahwa angkot adalah sistem transportasi yang primitif, tidak punya banyak aturan, dan TIDAK BISA DIATUR.

Pas gw nyeritain kebobrokan2 angkot di jalan raya, si Nanda menimpali:

“tapi Gi, an kan sering ngobrol2 ama tukang angkotnya. trus banyak juga dari mereka yang pengen kita jadi orang pinter dan bener, supaya negebenerin eni negara, ..”

“mereka kan emang pengen ngidupin anak istri mereka..”

semuanya diamini oleh si Fajrisari.

Dan pendapat gw tentang itu adalah:

Bagaimanapun latar belakang kehidupan mereka, kesulitan hidup mereka, rendahnya pendidikan mereka, itu tidak bisa dijadikan pembenaran atas semua kebobrokan mereka di jalan raya. Itu semua adalah masalah, yang harus diselesaikan, bukan dijadikan pembenaran untuk kesalahan lain. Tentunya diselesaikan oleh orang lain, (bukan perancang transportasi, red), melainkan oleh menteri ekonomi, pendidikan, sosial, dll. Karena faktanya itu bukanlah masalah transportasi, melainkan masalah ekonomi, sosial, dll. Efek domino memang.

Itulah keadilan, benar adalah benar, salah adalah salah. Kalo ada kendaraan yang berenti di bawah S-cross, ya dia salah, harus ditindak secara hukum, mw angkot, baby benz, kendaraan plat ijo berbintang, dll. Kecuali ambulans ma pemadam kebakaran kali ya. Gw juga suka kok, memaki2 dalam hati orang yang buang sampah ke jalan raya dari dalam sedan mewah, ato mobil tni ad yang nyelonong bae lewat jalur busway. Cuma bedanya mereka g ngetem di perempatan, jadi ya gw g esmosi2 banget.

Kembali ke masalah utama, intinya adalah semua latar belakang kehidupan para supir angkot tidak bisa dijadikan pembenaran atas kebobrokan mereka di jalan raya. Sistem transportasi negara ini memang harus dirombak besar-besaran secara menyeluruh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: