“Ini pertama kalinya gw naik kereta lho!”

Kalimat itu diucapkan oleh seorang anak Arsitektur kelas internasional UI pas lagi kuliah kunjungan ke Kota Tua Jakarta.

Hm, bwt gw itu cukup mengejutkan sih. Tapi kita ambil sisi ilmiahnya aja, setidaknya ada dua hal:

1. Transportasi umum di Jabodetabek sudah sedemikian buruknya

2. Buruknya transportasi umum tersebut udah mengubah pola bertransportasi orang2, terutama kelas menengah ke atas.

Sebelum kita bahas lebih lanjut, pengen nambahin aja ucapan salah seorang temen gw yang lain,

“seumur hidup gw belom pernah naik kendaraan umum”.

Ck ck, saya tidak berbohong bahwa saya mendengar ia berkata seperti itu, dengan polosnya.

Sekitar tahun 93-94 pas gw masih balita dan masih tinggal di Paris, gw inget banget nyokap gw selalu ngedorong kereta troli gw ketika naik metro (kereta bawah tanah). Ketika itu, Paris yang ngga lebih besar dari Jakarta udah punya sekitar 12 jalur metro, serta puluhan jalur trem dan bus. Jalur2 kendaraan tersebut bener2 ngejangkau seluruh penjuru kota, sehingga ingatan gw ketika berada di mobil pribadi ketika itu hanya ada pas keluarga gw sedang keliling Eropa barat, sisanya yang gw inget adalah pemandangan orang ngelewati pintu karcis otomatis metro (kaya yang di busway itu lho), orang2 ngebaca peta rute metro, dan nyokap gw yang tertidur di kursi metro dan otomatis terbangun pas udah sampe stasiun tujuan. Nyokap gw notabene istri diplomat saat itu, tapi keamanan dan kenyamanan kendaraan umum di Paris jauh dari sekedar cukup untuk seorang menteri sekalipun.

Baiklah, itu Paris, berbeda dengan Jakarta, bla bla bla..

Tahun 2000-an ketika gw di Kuala Lumpur, gw pergi kemana2 dengan menggunakan lrt (light rail transit, kereta ringan berbasis rel). Sebutlah mw kemana? Menara kembar tertinggi sedunia, Petronas? Mall terbesar di Asia Tenggara, Mid Valley Megamall? Bandara tercantik di Asia Tenggara, Kuala Lumpur International Airport? Semuanya terjangkau dengan kereta api. Dari daerah suburban di Taman Paramount hingga kompleks perkantoran di Ampang, semuanya terhubung oleh kereta api yang nyaman dan aman.

Untuk sedikit mengejutkan lagi, Kuala Lumpur udah punya 6 jalur kereta, Manila 7 jalur, Singapura 6 jalur, dan Bangkok 7 jalur.

Jakarta?

Inilah pembahasan paling menarik di postingan kali ini.

Transportasi massal perkotaan terakhir di Jakarta (selain KRL dan sebelum busway ada) adalah trem, yang dihapus oleh Presiden Soekarno pada tahun 60-an. Ketika itu beliau berkata bahwa trem tidak cocok untuk Jakarta, yang cocok adalah kereta bawah tanah (subway). Waw!

Lalu kenyataannya?

Beberapa dekade selanjutnya pemerintah pusat (ya, pemerintah pusat, bukan pemda, akan saya jelaskan kemudian) seakan terlupa untuk mengembangkan transportasi massal di Jakarta dan sekitarnya. Subway hanyalah wacana belaka dari periode 70-an (alhamdulillah perkembangan terakhir DPRD DKI telah menyetujui pembentukan konsorsium operator subway), kereta rel listrik pun tidak berkembang secepat perkembangan ekonomi dan jumlah penduduk serta mobilitasnya. Inovasi terakhir pemerintah adalah bus cepat terbatas (patas), yang pada awalnya merupakan bus dengan jalur ekslusif di bagian kiri jalan, yang hanya berhenti di halte2, melayani jarak jauh, dan tiap armada saling berhubungan melalui radio (seperti di taksi). Namun kita tahu sekarang, itu semua hanya tinggal konsep indah di masa lalu.

Intinya adalah, pemerintah pusat telah lalai membangun transportasi massal di Jakarta. Ya, pemerintah pusat. Karena monopoli pembangunan kereta api menurut undang2 ada di PT KAI, penentuan tarif-non-kompetitif dari bus ada di pemerintah pusat, dsb. Dan pemerintah pusat nampaknya tidak tertarik untuk merevisi berbagai peraturan tersebut, agar swasta tertarik untuk berinvetasi dalam tranportasi umum, seperti yang terjadi di KL, Bangkok, Manila, dsb.

Ekses dari kelalaian tersebut banyak, yang paling signifikan adalah berubahnya pola berkendara masyarakat perkotaan.

Sebisa mungkin naik kendaraan pribadi!

Di kalangan menengah ke atas muncullah orang2 seperti dua teman saya diatas.

Di kalangan menengah ke bawah meledakklah kredit sepeda motor bebek. (yang mana saya termasuk penggunanya, walaupun tidak kredit J )

Pemerintah DKI Jakarta sebagai ‘korban’ utama kebijakan pemerintah pusat pun harus pandai2 mengakali peraturan2 diatas dalam mengatasi masalah transportasinya. Dibangunlah transjakarta busway, yang pada hakikatnya adalah bus, sehingga pengadaan bus-nya boleh ditender pada pihak swasta. Monorail (insyaallah) bisa dibangung, karena ia sebenarnya bukan kereta rel seperti yang kita kenal J. Subway? Harus menunggu persetujuan pemerintah pusat dalam hal ini, itu, ini dan itu. Dan tetap tidak ada swasta yang boleh membangun jalur kereta api baru, dari sononya gitu!

 

Dan nampaknya kita masih harus menunggu sekitar 20 tahunan lagi sebelum kita bisa menikmati transportasi umum kita sebagaimana bule-bule di Eropa Barat sana menikmati transportasi umum mereka. Atau bahkan, sebagaimana bangsa-jiran-yang-sering-kita-cemooh-sebagai-bangsa-pencuri menikmati transportasi umum mereka.

 

Vivat transportasi umum!

One Response to ““Ini pertama kalinya gw naik kereta lho!””

  1. Wiro Sableng Says:

    Selamat Malam… Week End enggak ada acara ya mending blogwalking aja. Setelah ngebaca artikelnya, Wiro Sableng ngasih komen begini :
    horas bah… wakakkaa…
    emang sih transportasi umum di indonesia n khususnya di jakarta udah enggak nyaman lagi n malah menjadi biang kemacetan… kapan ya jakarta bisa enggak macet lagi… :):):)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: