korupsi

Sekian puluh persen orang Indonesia pasti pernah denger kata korupsi.

Tapi cuma seperperpersekian persennya yang tau tindakan apa aja yang bisa dikategorikan korupsi.

Gara-gara itu banyak orang Indonesia yang melakukan korupsi tanpa menyadarinya.

Sekali lagi, banyak orang Indonesia yang melakukan korupsi tanpa menyadarinya.

Jadi deh korupsi sebuah budaya yang mendarah daging di negeri ini.

 

Jadi ceritanya nih ya, gw baru aja baca buku yang judulnya

“Memahami untuk Membasmi, Buku Saku untuk Memahami Tindak Pidana Korupsi”.

Jarang (ga ada malah kali ya) di toko-toko buku, gw dapetinnya eksklusif dari Sekolah Ksatria. Kalo mw minjem bukunya pinjem aja ke gw.

 

Kalimat –kalimat awal yang diatas ituh dicuplik dari Kata Pengantar-nya.

 

Dan bener banget kan?

Sehari-hari kita melakukan tindak korupsi, baik kecil maupun besar, tanpa kita menyadarinya.

Banyak ajah gitu contohnya.

Ngubah laporan keuangan organisasi kita, ngasi parsel ke atasan kita, atopun bikin SIM/KTP secara nembak.

 

Dan khusus buat poin yang terakhir,

gw baru aja mw melakukannya.

Doain aja ga bener-bener terjadi.

 

Kalo bener2 terjadi,

gini kali ya ceritanya.

 

 

Kronologi Kasus

 

LP selaku salah seorang pengendara kendaraan beroda empat hendak membuat Surat Izin Mengemudi A (SIM A).

 

Pada tanggal 18 Juli 2007 LP mendatangi kantor Polres Depok untuk mengajukan penerbitan SIM A-nya. LP mengikuti beberapa prosedur awal seperti melengkapi berkas administrasi, mengikuti tes kesehatan, hingga tes tertulis dengan baik.

 

Namun, pada saat prosedur tes praktik, LP memutuskan untuk tidak mengikutinya dengan alasan ia berpikir ia tidak akan lulus di tes tersebut. Karena tidak mengikuti tes praktik namun tetap ingin mendapatkan SIM A, LP memutuskan untuk mengajak berbicara anggota Polri yang bertugas dalam penerbitan SIM A bernama X di kantornya. Kepadanya LP menawarkan untuk memberikan uang sejumlah Rp. 100 ribu dengan imbalan LP diluluskan tes praktik tanpa harus mengikutinya. Oknum X menyetujuinya dan LP memberikan uang sebesar Rp. 100 ribu kepadanya. LP dapat melewatkan tes praktik, melanjutkan ke sesi pemotretan, tanda tangan, dan cap jempol, dan mendapatkan SIM A-nya pada hari itu juga.

 

Pasal 13 UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001:

Setiap orang yang memberi hadiah atau janji kepada pegawai negeri dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukannya, atau oleh pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan tersebut, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).

 

 

Analisis Kasus

 

Kasus tersebut selanjutnya dianalisis dengan memecah ke dalam unsur tindak pidana korupsi Pasal 13 UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001 sebagai berikut:

  1. Setiap orang
  2. Memberi hadiah atau janji
  3. Kepada pegawai negeri
  4. Dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukannya, atau oleh pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan tersebut

 

Unsur tindak pidana 1: Setiap orang

    – Fakta Perbuatan yang dilakukan dan kejadian yang ditemukan:

– Si “LP”

    – Alat Bukti yang mendukung:

– Keterangan dari Saksi X

– Keterangan dari Saksi lain

– Keterangan dari Terdakwa LP

 

Unsur tindak pidana 2: Memberi hadiah atau janji

    – Fakta Perbuatan yang dilakukan dan kejadian yang ditemukan:

– Pada tanggal 18 Juli 2007 di ruang kerja X, LP memberikan uang sejumlah Rp. 100 ribu kepada X

    – Alat bukti yang mendukung:

        – Keterangan dari Saksi X

        – Keterangan dari Terdakwa LP

        – Keterangan dari Saksi-saksi lain

        – Sebagian uang dari Rp. 100 ribu

 

Unsur tindak pidana 3: Kepada pegawai negeri

    – Fakta Perbuatan yang dilakukan dan kejadian yang ditemukan:

– X selaku anggota Polri yang bertugas dalam penerbitan SIM A

    – Alat Bukti yang mendukung:

– Keterangan dari Saksi X

– Keterangan dari Saksi lain

– SK Pengangkatan selaku anggota Polri

– SK Penugasan X

 

Unsur tindak pidana 4: Dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukannya, atau oleh pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan tersebut

    – Fakta Perbuatan yang dilakukan dan kejadian yang ditemukan:

– LP mengetahui bahwa X selaku anggota Polri dapat meluluskannya dalam tes praktik tanpa harus mengikutinya

    – Alat Bukti yang mendukung:

– Keterangan dari Terdakwa LP

 

KESIMPULAN:

Keempat unsur tindak pidana korupsi pada Pasal 13 UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 tahun 2001 terpenuhi. Keseluruhan rangkaian perbuatan yang telah dilakukan oleh LP adalah sebuah tindak pidana korupsi berdasarkan 13 UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 tahun 2001 sehingga LP dituntut dipidana penjara.

 

 

Ho3,,

serem juga yah..

Moso’ gw kudu nginep di hotel rodeo cuma gara-gara mo bikin SIM A..

Mending gw nunggu dah ampe gw bener2 bisa bawa mobil,,

trus ntar gw ikutin deh segala macem tesnya..

Lulus g lulus mah liat aja ntar,,

toh buktinya ada kok yang lulus,,

sebut saja namanya Jijat, 18 tahun..

 

Yah begitulah,,

yang penting,,

kita mulai dari hal yang kecil, dari saat ini, dan dari diri kita sendiri..

 

Bukan hanya untuk tidak korupsi,,

tapi untuk bersikap jujur dalam segala tindakan kita..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: