www.lutfiprayogi.co.cc

Masa SMA adalah masa yang saya kenang sebagai masa yang sangat indah. Masa dimana setiap harinya dipenuhi dengan rasa senang di dalam hati. Cukup kerasnya proses pembelajaran di Smansa (SMA Negeri 1 Depok) bila dibandingkan dengan SMA-SMA lain di Depok pun saya masukkan sebagai bagian dari perasaan senang tersebut.
Saat menjalani kuliah S1, saya mengingat masa yang indah tersebut dengan cukup baik. Saya juga merasa “ga nyangka udah selesai melewati masa indah tersebut”. Saya bahkan pernah bermimpi setelah lulus S1 saya mengulang sekolah di Smansa lagi.
Sementara itu masa kuliah S1 adalah masa yang saya kenang sebagai masa penuh perjuangan. Masa dimana setiap harinya dipenuhi dengan perjuangan untuk bisa bertahan dan sukses di perkuliahan. Masa dimana sedikit saja tidak serius maka saya akan terdepak dengan kerasnya dari ‘kesuksesan’. -__- Bila ditelusuri lebih detail tentu saja ada banyak sisi-sisi indah dari masa perkuliahan, tapi bagi saya sisi-sisi tersebut tidak dominan.
Mengingat kerasnya masa ini, tentu saja tidak sedikitpun terbersit keinginan, bahkan di alam bawah sadar saya, untuk mengulang masa ini. Saya juga merasa “ga nyangka udah melewati masa-masa tersebut”, dengan dilengkapi ungkapan “alhamdulillah” yang amat sangat tulus di depannya.
Yang menarik adalah, saat ini ketika saya sudah mulai berprofesi sebagai akademisi (asisten dosen & asisten penelitian), memori tentang masa-masa indah di SMA perlahan mengabur. Seorang teman pernah berkata bahwa kita hanya mengingat dengan baik memori (indah) dari satu periode sebelum saat kita mengenangnya tersebut. Mungkin dia benar, tapi saya tidak mengingat dengan sangat baik memori masa kuliah S1 (yang keras) itu kok.
Pada akhirnya, renungan tentang memori ini tentunya harus mengingatkan kita tentang makhluh Allah yang bernama waktu. Kita telah menghabiskan banyak waktu dalam hidup kita, dan hanya memiliki jatah sisa waktu hidup tertentu. Kita harus memaksimalkan setiap nanodetik waktu yang kita miliki untuk beribadah, sebelum jatah waktu kita habis, dan kematian menjemput kita.
Hayatilah firman Allah “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati” (QS 3:185) sedalam-dalamnya. Ada baiknya juga untuk meneladani perkataan Steve Jobs (1955-2011), pria legendaris dibalik kesuksesan Apple, yang baru saja berpulang, “Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian.”
..
Waktu terus berlalu, memori dapat datang dan pergi. Tapi perlu kita ingat, sesungguhnya ada warisan yang sangat bermakna dari setiap masa dan memori tersebut. Warisan yang harus kita jaga, dan jangan biarkan ia pergi sebagaimana perginya memori kita.
Apakah ia? Ia adalah “sahabat”.




October 7, 2011 at 9:42 am
Iya nih, masa SMA mulai terhapus dari memori.
October 10, 2011 at 12:12 pm
parah lo jar..
October 11, 2011 at 5:50 pm
gw belom, masih sangat melekat di hati gw kenangan gw akan elo, fajar, ashlih, dan semua teman2 smansa :’)